SEJARAH

Berawal dari Keprihatinan Berwujud Dalam Pendidikan Pengembangan Kewirausahaan

Pendirian Politeknik WBI (Wilmar Bisnis Indonesia) tidak dapat dilepaskan dari pribadi sentral salah seorang wirausaha Indonesia yang sukses, yaitu Martua Sitorus.  Sebagai seorang wirausaha yang memulai bisnisnya dari bawah hingga mencapai ukuran bisnis berskala global, Martua Sitorus merasa prihatin melihat pertumbuhan wirausaha (entrepreneur) di Indonesia yang masih sangat rendah yaitu hanya 0.3% dari jumlah penduduk.  Jumlah ini jauh ketinggalan di bawah Singapura yang mencapai angka 7.2% dan Malaysia sebesar 2.5%. Padahal sosiolog David McClelland menyatakan bahwa suatu negara bisa maju bila memiliki entrepreneur minimal sebanyak 2% dari total penduduknya.

 

Di samping itu, fakta menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia lebih berorientasi pada jobs seeker (pencari kerja) daripada jobs creator (pencipta lapangan kerja).  Bahkan lulusan sekolah bisnis pun banyak yang lebih memilih menjadi profesional dibandingkan wirausaha.  Fakta ini semakin memperjelas sebahagian permasalahan pertumbuhan lapangan kerja di Indonesia. 

 

Sejalan dengan pandangan Ir. Ciputra, yang merupakan Bapak Entrepreneurship Indonesia, Martua Sitorus percaya bahwa institusi pendidikan merupakan sarana yang tepat untuk membangun generasi muda yang mandiri, kreatif, inovatif, adaptif, mampu menciptakan lapangan kerja baru, dan berbuat lebih untuk kepentingan orang banyak.  Berdasarkan pemikiran di atas, Martua Sitorus memutuskan untuk terjun di dunia pendidikan entrepreneurship dengan mendirikan Politeknik WBI.  Sebagai langkah awal, pengembangan institusi pendidikan tinggi ini diselenggarakan di daerah Sumatera Utara, karena lembaga pendidikan entrepreneurship belum ada di daerah ini.  Ke depannya, Martua Sitorus merencanakan membantu pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri kecil menengah (IKM) dan kewirausahaan di luar pulau Jawa, di mana saat ini IKM di luar pulau Jawa hanya sebesar 25% dan pemerintah hendak meningkatkannya menjadi 40%.  Rencana pendirian institut pendidikan ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Ir. Ciputra melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) – Surabaya.

 

Martua Sitorus percaya bahwa dengan pendidikan kewirausahaan/entrepreneurship yang tepat, maka dapat diciptakan sosok entrepreneur yang tangguh, mandiri, kreatif, inovatif, adaptif, serta memiliki kompetensi untuk meminimalisir resiko kegagalan, sehingga mampu berkompetisi secara global dan terus mengembangkan bisnisnya.  Dengan metode dan proses pembelajaran yang tepat, Martua Sitorus juga mengharapkan untuk menciptakan para entrepreneur yang berkarakter baik, yang bekerja untuk kepentingan orang banyak/ masyarakat dan bukan semata untuk kepentingan diri sendiri.